travelling

Dieng Tour 18-20 Agustus 2017

Posted on Updated on

Bagi teman-teman yang berminat untuk gabung si tour ini silahkan menghubungi saya di nomor 08170990708 (WA) atau 08111727388

Peserta terbatas hanya maksimum 10 orang saja. Bila jumlah peserta maka biaya tour akan disesuaikan.

Dibawah ini itinerari untuk tour Dieng:

Hari 01: Mepo Kalibata Mall

18.00-19.00 :Meeting point di Kalibata mall,sholat magrib

19.00-07.00:Perjalanan Jakarta-Dieng Wonosobo

Hari 02: Dieng Makan Pagi,Siang,Malam

07.00-08.00 :Tiba diwonosobo perjalanan dilanjutkan menuju gardu pandang Dieng

08.00-10.00 :melanjutkan perjalanan menuju dataran tinggi dieng

10.00-11.00 :explore & hunting foto dikomplek candi arjuna

11.30-12.30 :explore & hunting foto dikawah sikidang( makan siang)

13.00-14.00 :Hunting foto spot batu ratapan angin(background telaga warna)

14.00-15.00 :menonton film dokumenter ttg dieng di Dieng plateu theater

15.00-16.00 :mengunjungi telaga warna pengilon pertapaan goa

16.00-18.00 :kembali kehomestay istirahat serta mandi

18.00-23.00 :acara ramah tamah peserta(makan malam)

Hari 03: Dieng -Jakarta

03.00-04.00 : Bangun tidur persiapan melihat golden sunrise bukit sikunir

04.00-04.30 :perjalanan menuju desa sembungan

04.30-05.00 :sholat subuh bagi yang muslim didesa sembungan

05.00-05.30 :trekking bukit sikunir

05.30-06.30 :menikmati golden sunrise hunting foto negri diatas awan

06.30-07.00 :trekking turun bukit

07.00-08.00 :photo stop ditelaga cebong,kembali kehomestay

08.00-09.00 :Istirahat sarapan pagi mandi dan packing persiapan kembali ke jakarta.

09.00-12.00 :perjalanan menuju purwokerto

12.00-13.00 :Ishoma (makan siang biaya sendiri)

13.00-23.00 :estimasi tiba di meeting point asal kalibata mall.

Harga paket tour: Rp.1.100.000

Harga termasuk:

●transportasi HIACE AC PP

●homestay sekamar berdua kecuali peserta nya ganjil bertiga

●Kamar mandi dalam

●makan 4x prasmanan

●air mineral

●welcome drink

●tiket masuk semua wisata

●dokumentasi

●guide lokal

●tour leader jakarta
Harga tidak termasuk:

Pengeluaran yg bersifat pribadi

Tips supir+guide selama tur
Syarat dan ketentuan:

●DP 500 ribu, sisa pelunasan H-7 sebelum tanggal keberangkatan bilamana ada yang batal DP tidak bisa dipulangkan bisa digantikan dengan orang lain .

●keberangkatan min 10 org.kurang dari kuota harga paket akan disesuaikan

●program acara menyesuaikan kondisi lapangan.

Note:
Itinerari bisa berubah sewaktu waktu tergantung situasi & kondisi dilapangan atau

(Force majeur) situasi dimana ada kejadian alam tanpa kita duga,pemblokiran suatu daerah dll mengakibatkan terjadinya pembatalan tour.

Cancel bisa digantikan peserta lainnya, tidak bs diuangkan atau hangus

Advertisements

Photo: Love Quotes

Posted on Updated on

Path 2013-11-23 10_06_edited

Good Morning my lovely friends…

I took this photo in Mughal Garden, Srinagar India on last September. But i don’t know the name of this flower. I just felt this flower is beautiful to be as poster for Love quotes 🙂

Have a wonderful weekend!

Ampera Bridge – South Sumatera, Indonesia

Posted on Updated on

Ampera6

Ampera Bridge is a Vertical-lift bridge in the city of Palembang, South Sumatera, Indonesia, which is the landmark of the city. It connects Seberang Ulu and Seberang Ilir, two regions of Palembang. It can no longer be opened to allow ships to pass.

The bridge was planned during the era of Indonesia’s first president, who wanted a bridge that could open and be a match for London’s Tower Bridge. The funds for the construction came from Japanese war reparations, with the Fuji Car Manufacturing Co. Ltd being given responsibility for design and construction. However, at the time, Japan had no bridges of this type, and Fuji Car had no bridge-building experience. The official opening was carried out by Minister/Commander of the Army Lieutenant General on 30 September Ahmad Yani 1965, only hours before he was killed by troops belonging to the 30 September Movement. At first, the bridge was known as the Bung Karno Bridge, after the president, but following his fall, it was renamed the Ampera Bridge (Amanat Penderitaan Rakyat = the mandate of the people’s suffering).

Ampera1  Ampera4

For a few years after it was opened, the center span could be lifted at 10 meters per second to allow ships of up to 44.5m in height to pass underneath. However this only occurred a few times, and after 1970 it could no longer be opened. The official reason for this was that the 30 minutes needed to raise the bridge was causing unacceptable delays, and that in any case silting of the river had made it impassable for large ships. However, according to architect Wiratman, who acted as a consultant before the construction, the design of the bridge was flawed from the outset because of the soft mud on which it was built. He maintains that his concerns were ignored for political reasons, and that as the towers’ foundations shifted, the bridge deformed to the extent that it could no longer be opened. The ballast weights needed to balance the wight of the bridge were removed in 1990 to prevent possible accidents were they to fall.

Ampera7

Text: wikipedia

Let’s Get Lost! 30 Hours in Varanasi

Posted on Updated on

Var16

Sungai Gangga identik dengan tempat paling suci bagi umat Hindu karena Gangga (Ganges) sendiri merupakan nama seorang Dewi dalam agama Hindu yang dipuja sebagai dewi kesuburan dan pembersih segala dosa. Itulah sebabnya mengapa Sungai Gangga selalu didatangi oleh umat Hindu setiap saat, dari pagi hingga malam, melakukan ritual-ritual keagamaan yang tiada henti.

Keinginan saya datang ke Varanasi adalah tiada lain untuk melihat kehidupan di sekitar Sungai Gangga. Walaupun ketika saya datang tidak ada acara perayaan besar bagi umat Hindu, tetapi menyusuri sungai Gangga dengan perahu saat menanti matahari terbit sambil melihat kegiatan penduduk setempat di pagi hari dan berjalan kaki di lorong-lorong gang sempit sungai Gangga yang akan membuat kita tersesat (pasti bakal tersesat!) merupakan pengalaman yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Tentunya akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Perjalanan dengan kereta api menuju Varanasi dari Stasiun Howrah, Kolkata ternyata menempuh waktu 16 jam dari yang seharusnya 13,5 jam. Dari stasiun Howrah, kereta Vibhuti Express berangkat tepat waktu yaitu jam 20.00 dan seharusnya akan tiba di stasiun Varanasi jam 9.30 pagi keesokan harinya. Saya tidak tahu penyebab terlambatnya tiba di stasiun Varanasi dan itu bukan masalah buat saya, karena saya naik kereta malam sehingga saya bisa tidur lumayan pules selama perjalanan 🙂

Nah, tiba di stasiun Varanasi saya langsung mencari tulisan “EXIT” karena semua tulisan yang ada di dalam stasiun dalam bahasa Hindi yang tidak saya mengerti. Kata Exit, adalah kata yang dapat dimengerti oleh semua bahasa. Suasana di stasiun sangat ramai, banyak sekali orang-orang yang berkerumun (mungkin menunggu kereta), tetapi yang hilir mudik juga tak kalah banyaknya. Tukang jualan, pengemis, gembel, calon penumpang yang berdiri maupun yang duduk di lantai, kuli yang mengangkut barang-barang besar dengan gerobaknya semuanya berbaur menjadi satu. Wuiih….ramai sekali! Buat yang ngga biasa dengan keramaian saya jamin pasti langsung pusing melihat suasana stasiun Varanasi 😀 saya saja pusing melihatnya… Dan anehnya kebanyakan yang saya lihat adalah para lelaki. Kenapa ya…heran juga saya. Dengan sedikit susah payah menerobos keramaian di stasiun, saya berjalan menuju pintu keluar. Ppffff….rasanya lega ketika sudah mencapai pintu keluar. Rasanya belum sempat bernapas, tiba-tiba seorang bapak menghampiri saya dan menawarkan jasanya untuk mengantar ke guest house tempat saya tinggal dengan autorickshaw (tuktuk). Agak ragu juga awalnya apakah bapak ini jujur atau tidak. Saya menyebut nama guest house dan dia bilang ok tahu tempat tersebut. Harga disepakati sebesar 100 rupee. Bapak itu mengatakan bahwa tuktuk tidak bisa mengantar sampai di depan guest house karena jalan masuk ke GH tersebut tidak bisa dilalui oleh tuktuk. Maka saya akan diturunkan di depan jalan yang di tutup itu. Waduuh…saya hanya kepikiran bagaimana cara saya selanjutnya untuk sampai di GH saya?

Kota Varanasi sangat berdebu. Udaranya sangat kering dan menurut saya rasanya lebih panas daripada di Kolkata. Wuiihhh… serasa dipanggang! Matahari benar-benar memancarkan sinarnya yang paling terang…benar-benar silau mata dibuatnya. Kotanya belum moderen, banyak toko-toko kecil di sepanjang jalan. Becak, tuktuk, sepeda sangat banyak di temui. Para pedagang buah dengan gerobaknya menjajakan buah-buahan apel, pisang dan buah lainnya (saya tidak tahu namanya). 3 macam buah itu yang paling banyak dijumpai.

Akhirnya tuktuk berhenti di perempatan jalan yang ditengah-tengahnya ada bundaran kecil. Supir tuktuk hanya memberikan petunjuk bahwa saya tinggal jalan kaki lurus ke depan. Dan memang benar, jalan menuju guest house di blokir, yang hanya boleh dilalui adalah untuk pejalan kaki saja. Masalahnya, dimanakah persisnya letak guest house tersebut? Ketika hendak menyeberang, lagi-lagi saya didatangi seorang pemuda yang menanyakan saya hendak kemana. Dan pemuda tersebut bersedia mengantar saya sampai di guest house tanpa memberitahu berapa biaya yang harus saya bayar untuk jasanya itu. Tapi ya sudahlah…saya tidak ingin tawar menawar dalam keadaan cuaca yang sangat terik ini. Benar-benar saya ingin cepat-cepat sampai di guest house dan mengurung diri di kamar yang berAC…:) Sepanjang jalan yang diblokir dikiri kanannya dipenuhi toko-toko yang menjual suvenir dan pakaian. Naluri kewanitaan langsung muncul….apalagi kalau bukan shopping…hahaha. Pemuda tersebut bernama Raju. Berjalan kaki dibawah terik panasnya matahari terasa jauh sekali dan melelahkan. Keringat langsung bercucuran, baju basah, jalanan berdebu, kulit langsung memerah. Ampuun panasnya!!

Var1  Var2  Var3

Dari jalan besar, kami masuk ke jalan kecil. Tepatnya sih disebut gang, karena hanya muat untuk orang berjalan kaki dua arah. Apabila ada sepeda atau motor yang mau lewat, pejalan kaki harus minggir dulu. Nah mulai dari jalan masuk ini…saya sering terkejut dengan suasana yang saya temui. Incredible India….hahaha 🙂  Jalanannya kecil, tapi kotornya ampuuun….sampah berserakan, kotoran sapi, anjing bahkan mungkin manusia bisa ditemui. Bisa kebayang kan bagaimana baunya…:) Ada warung-warung yang menjual permen, snack dan minuman botol. Rumah-rumah penduduk saling berhimpitan tumpang tindih. Sebagian dijadikan tempat usaha kerajinan koveksi sekaligus galeri menjual hasil kerajinan. Kebanyakan berupa fashion seperti pashmina, baju India, kain sari, syal dan lain-lain. Ada guest house atau hostel yang disewakan. Agak cemas juga memikirkan guest house saya nanti apakah berada persis di depan gang seperti ini? 😯 Ada temple juga, untuk umat Hindu bersembahyang. Beberapa pengemis atau gembel sedang duduk selonjoran di tepi jalan. Belum lagi sapi-sapi, kambing, anjing berkeliaran dengan bebasnya menghalangi jalan. Dan untuk kali ini saya benar-benar tidak bisa menghapal jalan yang sudah saya lalui ketika sampai di Guest House. Entah berapa kali belokan yang dilalui Raju tadi. Benar-benar saya tidak bisa mengingatnya! Kalaupun saya coba-coba jalan kaki sendiri, saya yakin pasti akan tersesat. Suer…jalan kaki di dalam gang ini akan membuat anda tersesat! Gang atau jalan kecil yang saya lewati ini agak mendaki, sehingga membuat tenaga saya terkuras. Rasanya tidak salah mengambil keputusan kalau saya hanya menginap 1 malam saja di Varanasi… 😀

Var4  Var5 Var6

Var7  Var8

Sampai di Guest House langsung check in dan setelah mendapat kamar di lantai bawah (1 lantai dengan Reception), langsung pasang AC dan istirahat sebentar untuk mendinginkan badan. Kira-kira sejam lamanya berada di kamar, saya lalu keluar untuk mencari makan siang. Restoran hotel berada di lantai atas (roof top). Dari sini bisa terlihat pemandangan langsung sungai Gangga yang mengalir persis di depan hotel. Artinya guest house ini persis berada ditepi sungai Gangga. Sambil menunggu makanan datang saya mengambil beberapa foto 🙂

Var9  Var10   Var11  Var12

Selesai makan siang, saya keluar menemui Raju. Sesuai janji dan kesepakatan, saya akan diajak berjalan-jalan disekitar hotel, salah satunya melihat Golden Temple atau Kashi Vishwanath yang letaknya di dalam gang. Kembali kami melewati gang yang kumuh dan sempit. Tiba di temple, saya dilarang membawa kamera masuk ke dalam temple. Bahkan tas sekalipun tidak boleh, hanya dompet saja. Ada tempat penyewaan loker, tetapi melihat kondisi loker yang kurang meyakinkan keamanannya saya membatalkan untuk masuk ke dalam temple tersebut. Sebagai gantinya Raju membawa saya ke temple yang lain, sebuah temple Nepal bernama “Kathwala Temple” dengan desain arsitektur Nepal, yang berlokasi di Lalita Ghat. Hanya membayar 15 rupee per orang untuk masuk ke dalam area temple tersebut. Di sebelahnya ada semacam pesantren untuk anak-anak belajar menjadi pendeta. Dari situ Raju mengajak saya melihat tempat kremasi bagi umat Hindu yang sudah meninggal. Kembali kami melewati jalan sempit dan Raju mengambil jalan pintas dengan melewati sebuah kolong yang gelap kira-kira sepanjang 50m. Tidak panjang memang, tetapi cukup menyeramkan buat saya. Kolong tersebut bila malam hari digunakan sebagai tempat tidur oleh para gembel dan pengemis.

20130913_173429  20130913_173807

Cukup banyak orang-orang yang berada di area pembakaran mayat. Kebanyakan yang saya lihat disana adalah laki-laki. Dan saya tidak bisa membedakan mana keluarga yang sedang berduka dan mana yang bukan. Di tempat itu lagi-lagi ada larangan pengambilan foto 😦 Seorang bapak menghampiri saya dan mengajak saya naik ke atas sebuah gedung untuk bisa lebih leluasa menyaksikan tempat pembakaran. Ada 6 jenazah yang sedang dibakar saat itu. Menurut cerita bapak itu, proses kremasi berlangsung 24 jam non stop, artinya setiap saat bila ada anggota keluarga yang meninggal dan pihak keluarga ingin melakukan kremasi untuk yang meninggal, pekerja-pekerja itu siap kapan saja untuk melakukan kremasi. Ada banyak sekali kayu-kayu ditumpuk di sekitar itu untuk membakar mayat. Konon kayu-kayu itu didatangkan dari India Utara. Akhir cerita, disini saya kena “scam” oleh bapak itu sebesar 2000 rupee. Alasannya adalah sebagai donasi untuk membantu keluarga yang tidak mampu bila ingin di kremasi. Karena harga kayu tersebut 950 rupee per kg. Sementara kayu dibutuhkan untuk sekali pembakaran bisa mencapai kurang lebih 350 kg. Hmmm…..saya anggap uang yang saya berikan itu adalah benar-benar untuk amal (sesuai niat saya). Biarlah Tuhan saja yang membalasnya 🙂

20130914_070134 Var21 Var22

Hari sudah mulai gelap. Sebelum kembali ke hotel saya mampir di sebuah toko yang direferensikan Raju (biasa deh, supaya dia dapat komisi) untuk membeli beberapa potong syal untuk oleh-oleh dan baju India saya sendiri …hehehe 🙂

Malam harinya setelah makan malam, kembali saya di antar Raju untuk melihat sebuah pertunjukan berupa acara sembahyang umat Hindu. Sepertinya acara ini diadakan setiap malam. Sudah banyak penonton ketika saya tiba di sana. Kurang menarik buat saya, maaf, mungkin karena saya tidak mengerti. Sebelum acara selesai saya sudah keluar dan kembali ke hotel. Karena besok subuh saya rencananya akan menyusuri sungai Gangga sambil melihat matahari terbit. Dan Raju memperkenalkan seorang bapak bernama Bhapu yang akan membawa saya dengan perahunya besok subuh.

20130913_185818

Pagi-pagi jam 5.30 Bhapu sudah menunggu saya di depan pintu masuk hotel, dan langsung membawa saya ke pinggiran sungai tempat perahunya bersandar. Hari masih agak gelap dan udara tidak begitu dingin. Di pangkalan perahu atau istilahnya “Ghat” ada sepasang bule yang juga akan naik perahu, tapi tidak sama-sama dengan saya. Perahu yang saya naiki adalah perahu kayu yang sangat sederhana dengan 2 alat pendayung. Perahu mulai bergerak perlahan dan mulai menyusuri tepian sungai Gangga. Baru sekitar 10 menit perahu berjalan, Bhapu mengarahkan perahunya ke tengah sungai. Waduuh…ada apa niih? Harusnya kan dia membawa saya menyusuri tepian sungai bukan membawa ke tengah. Agak di tengah sungai, ada sedikit daratan sepertinya sungai sedang mengalami pendangkalan alias surut. Kemudian di tengah perahu saya melihat ada genangan air. Rasanya tadi ketika naik tidak ada air, kenapa sekarang ada air? Berarti perahunya bocor dong?? Hah….bocor? Bisa tenggelam dong? Whaaaa…. jangan sampai deh. Ngga lucu deh kalau saya harus berenang di sungai Gangga. Jangan deh…jangan. Tolong Tuhan, jangan sampai terjadi. Tiba-tiba perasaan panik menyerang dan saya menjadi tegang. Saya berusaha tenang dan menanyakan kepada Bhapu “Sir, what happen with your boat? Any problem?”. Bhapu menjelaskan dengan tenang bahwa ada sedikit air yang masuk dari tadi malam, sambil mengeruk genangan air tersebut dengan sebuah kaleng. Yaah….mudah-mudahan bukan karena bocor dan saya mencoba untuk tetap tenang. Tidak lama kemudian Bhapu mulai mendayung lagi perahunya ke arah tepian sungai. Saat itu saya mulai lega. Hhgghhh….bikin deg-degan aja!

Kabut masih terlalu tebal ketika matahari mulai muncul sehingga sinar matahari tidak terlihat bercahaya. Dari jauh tampak samar-samar jembatan Malviya. Kegiatan penduduk setempat mulai terlihat. Sebagian besar adalah kegiatan mandi pagi disertai dengan doa dan pemujaan. Beberapa orang melakukan ritual sembahyang. Tampaknya seluruh kegiatan penduduk berpusat mulai dari sungai Gangga ini. Mulai dari mandi, mencuci baju, sembahyang untuk membersihkan dosa-dosa, sampai dengan kematian pun berakhir pula di sungai ini. Selama 2 jam bolak-balik menyusuri sungai Gangga sudah cukup bagi saya untuk melihat kegiatan penduduk dan umat Hindu.

Var13

Saya kembali ke hotel untuk sarapan, dan check out jam 10 pagi untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Agra dengan kereta api malam. Karena kereta saya baru akan berangkat jam 17.20 maka saya menyewa mobil dari pihak hotel untuk membawa saya city tour dan di drop di stasiun sekitar jam 15.30. Tempat yang saya kunjungi antara lain Benaras Hindu University yang didirikan oleh Pandit Madan Mohan Malviya dan merupakan universitas yang terbesar  di Asia. Kemudian ke Sarnath, yang adalah tempat sembahyang bagi umat Budha, dan terakhir adalah Ramnagarh Fort. Lagi-lagi karena alasan larangan fotografi di beberapa tempat membuat saya kurang bersemangat untuk mengeksplor tempat-tempat lainnya di Varanasi. Selain itu cuaca yang sangat panas dan lembab membuat saya tidak sanggup untuk berlama-lama mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Anyway, yang penting selama 30 jam berada di Varanasi saya sudah mendapatkan banyak pengalaman yang seru mengenai India…. Incredible India!!

Foto-foto khusus mengenai kegiatan di Sungai Gangga akan diposting secara terpisah dalam bentuk video.

Related Links