jalan-jalan

Dieng Tour 18-20 Agustus 2017

Posted on Updated on

Bagi teman-teman yang berminat untuk gabung si tour ini silahkan menghubungi saya di nomor 08170990708 (WA) atau 08111727388

Peserta terbatas hanya maksimum 10 orang saja. Bila jumlah peserta maka biaya tour akan disesuaikan.

Dibawah ini itinerari untuk tour Dieng:

Hari 01: Mepo Kalibata Mall

18.00-19.00 :Meeting point di Kalibata mall,sholat magrib

19.00-07.00:Perjalanan Jakarta-Dieng Wonosobo

Hari 02: Dieng Makan Pagi,Siang,Malam

07.00-08.00 :Tiba diwonosobo perjalanan dilanjutkan menuju gardu pandang Dieng

08.00-10.00 :melanjutkan perjalanan menuju dataran tinggi dieng

10.00-11.00 :explore & hunting foto dikomplek candi arjuna

11.30-12.30 :explore & hunting foto dikawah sikidang( makan siang)

13.00-14.00 :Hunting foto spot batu ratapan angin(background telaga warna)

14.00-15.00 :menonton film dokumenter ttg dieng di Dieng plateu theater

15.00-16.00 :mengunjungi telaga warna pengilon pertapaan goa

16.00-18.00 :kembali kehomestay istirahat serta mandi

18.00-23.00 :acara ramah tamah peserta(makan malam)

Hari 03: Dieng -Jakarta

03.00-04.00 : Bangun tidur persiapan melihat golden sunrise bukit sikunir

04.00-04.30 :perjalanan menuju desa sembungan

04.30-05.00 :sholat subuh bagi yang muslim didesa sembungan

05.00-05.30 :trekking bukit sikunir

05.30-06.30 :menikmati golden sunrise hunting foto negri diatas awan

06.30-07.00 :trekking turun bukit

07.00-08.00 :photo stop ditelaga cebong,kembali kehomestay

08.00-09.00 :Istirahat sarapan pagi mandi dan packing persiapan kembali ke jakarta.

09.00-12.00 :perjalanan menuju purwokerto

12.00-13.00 :Ishoma (makan siang biaya sendiri)

13.00-23.00 :estimasi tiba di meeting point asal kalibata mall.

Harga paket tour: Rp.1.100.000

Harga termasuk:

●transportasi HIACE AC PP

●homestay sekamar berdua kecuali peserta nya ganjil bertiga

●Kamar mandi dalam

●makan 4x prasmanan

●air mineral

●welcome drink

●tiket masuk semua wisata

●dokumentasi

●guide lokal

●tour leader jakarta
Harga tidak termasuk:

Pengeluaran yg bersifat pribadi

Tips supir+guide selama tur
Syarat dan ketentuan:

●DP 500 ribu, sisa pelunasan H-7 sebelum tanggal keberangkatan bilamana ada yang batal DP tidak bisa dipulangkan bisa digantikan dengan orang lain .

●keberangkatan min 10 org.kurang dari kuota harga paket akan disesuaikan

●program acara menyesuaikan kondisi lapangan.

Note:
Itinerari bisa berubah sewaktu waktu tergantung situasi & kondisi dilapangan atau

(Force majeur) situasi dimana ada kejadian alam tanpa kita duga,pemblokiran suatu daerah dll mengakibatkan terjadinya pembatalan tour.

Cancel bisa digantikan peserta lainnya, tidak bs diuangkan atau hangus

Advertisements

Agra, The City of Emperor Kingdom

Posted on Updated on

Agra in the morning  20130915_103608

Inilah kota ketiga yang saya kunjungi ketika backpacking di India. Berangkat dari kota Varanasi naik kereta api malam dan tiba di Stasiun Agra Fort sekitar jam 6 pagi dengan waktu tempuh lebih kurang 13 jam. Kota ini wajib saya kunjungi ketika membuat planning trip ke India. Apalagi kalau bukan karena Taj Mahal, bangunan megah nan spektakuler yang masuk dalam daftar Keajaiban Dunia, tentunya menjadi prioritas utama tujuan ke India. Rasanya belum afdol dikatakan trip ke India kalau belum melihat Taj Mahal… J

Ketika kereta api memasuki kota Agra, tampak dari kejauhan bangunan Taj Mahal samar-samar tertutup kabut pagi hari. Kesan megah dan agung sudah terasa begitu melihatnya. Ngga sabar rasanya untuk bisa melihat dari dekat. Walau jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tetapi kabut masih menyelimuti di sekitar Taj Mahal.

Sampai di stasiun, saya langsung menuju pintu keluar. Untuk kali ini sudah lebih percaya diri karena ini yang ketiga kali pula naik kereta api malam dan sudah mulai terbiasa dengan suasana di stasiun kereta api di India…hehehe. Kereta berhenti di platform 8 dan harus menaiki tangga penyeberangan untuk menuju pintu keluar stasiun. Tidak sulit untuk mencari arah jalan keluar walau kebanyakan petunjuk masih dalam bahasa India dan lagi pula saya juga mengikuti arus orang-orang yang akan keluar dari stasiun J.

Di depan pintu keluar stasiun sudah tampak banyak tuktuk berjejer di pinggir jalan. Saya langsung menghampiri tuktuk dan sempat bingung juga mau pilih yang mana karena supir-supir di sana langsung mendekati saya ketika berjalan ke arah mereka. Saya pilih bapak yang mungkin usianya 45 tahun ke atas dan saya menyebut nama hotel tempat saya menginap supir tersebut langsung mengerti dan tahu alamatnya. Dia minta harga 150 rupee dan saya malas untuk tawar menawar maka saya langsung naik ke dalam tuktuk. Dalam perjalanan menuju hotel, terlihat lagi dari jauh bangunan Taj Mahal yang masih sedikit diselimuti kabut. Kelihatannya supir tersebut mengerti keinginan saya untuk bisa berhenti sebentar mengambil foto Taj Mahal dan sebelum saya memintanya supir tuktuk sudah memperlambat tuktuknya dan berhenti di tepian trotoar. Jepret-jepret sebentar lalu kembali ke tuktuk. Belum jalan supir tuktuk menawarkan jasanya ke saya untuk mengantar saya jalan-jalan dan mengunjungi beberapa tempat seperti Agra Fort, Baby Taj dan Mehtab Garden. Dan saya juga tidak menolaknya, akhirnya setelah tawar menawar maka disepakati harga 300 rupee untuk 2 orang. Menurut saya harga ini cukup murah lho… J

Sampai di hotel, saya minta supir tuktuk untuk kembali jam 10 karena saya mau istirahat, mandi dan sarapan sebelum city tour. Proses check in di hotel tidak lama karena saya sudah booking sebelumnya sehingga kamar sudah disiapkan. Saya dapat kamar dengan pemandangan ke taman, walaupun tamannya tidak besar. Dan berada di lantai pertama. Saya lihat hotel ini mempunyai 3 lantai. Hotel ini sangat dekat dengan Taj Mahal, hanya jalan kaki 5 menit. Dan daerah hotel ini rupanya sudah masuk kawasan Taj Mahal sehingga mendapat penjagaan cukup ketat. Karena jalan masuk ke hotel ini di pasang portal dan gardu polisi (kalau di Indonesia, seperti gardu hansip gitu deh…). Inilah alasan saya kenapa memilih hotel ini.

AGRA FORT

Agra Fort (Benteng Agra) adalah sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di  Agra, India. Benteng ini juga disebut sebagai Lal Qila atau Benteng Merah. Lokasinya sekitar 2.5 km ke barat laut dari Taj Mahal. Benteng ini lebih tepat disebut sebagai sebuah kota berdinding.

Agra Fort adalah sebuah benteng paling penting di India. Penguasa Mughal terkenal seperti Babur, Humayun, Akbar, Jehangir, Shah Jahan dan Aurangzeb pernah menempati benteng ini dan memerintah negara dari sini. Pada masa itu, kekayaan negara disimpan di dalam benteng ini.

Harga karcis masuk untuk turis asing Rs300/orang.

Agra1   Agra2Agra5   Agra3

Agra6   Agra4

BABY TAJ (ITIMAD-UD-DAULAH)

Adalah sebuah makam Mughal di kota Agra. Sering digambarkan sebagai ‘kotak hiasan’, kadang-kadang disebut ‘Bayi Taj’, dan sering dianggap sebagai sebuah rancangan Taj Mahal. Bersama dengan bangunan utama, struktur yang terdiri dari berbagai bangunan luar dan kebun, makam ini dibangun antara tahun 1622 dan 1628. Terletak di tepi kiri sungai Yamuna, Baby Taj berada di dalam sebuah taman besar yang dibangun di atas tanah sekitar lima puluh meter persegi dengan tinggi sekitar 1 meter. Sedangkan makam itu sendiri berada di dalam ruangan ukuran dua puluh tiga meter persegi. Di setiap sudut ada menara heksagonal yang tingginya sekitar tiga belas meter.

Harga karcis masuk untuk turis asing Rs110/orang

BT10  BT1

Baby Taj1  Baby Taj2

MEHTAB GARDEN

Mehtab Bagh atau Mehtab Garden ini adalah kebun kerajaan Mughal yang ke sebelas, yang terletak di tepi sungai Yamuna dan berseberangan dengan Taj Mahal dan Agra Fort. Dari kebun ini kita bisa melihat langsung bangunan Taj Mahal. Yang datang ke sini biasanya untuk melepas lelah sambil duduk-duduk di rumput dan memandangi Taj Mahal (seperti yang saya lakukan…hehehe). Selain itu buat yang hobi memotret, tempat ini merupakan spot yang bagus untuk memotret sunset dan Taj Mahal akan berbentuk siluet yang indah. Sayangnya saya tidak membawa tripod saat itu dan masih cukup lama juga untuk menunggu sampai sunset 😦

Oh ya, tiket masuk untuk ke Mehtab Bagh adalah Rs100/orang (harga turis asing).

MB2

Mehtab Bagh

Related Links

Ampera Bridge – South Sumatera, Indonesia

Posted on Updated on

Ampera6

Ampera Bridge is a Vertical-lift bridge in the city of Palembang, South Sumatera, Indonesia, which is the landmark of the city. It connects Seberang Ulu and Seberang Ilir, two regions of Palembang. It can no longer be opened to allow ships to pass.

The bridge was planned during the era of Indonesia’s first president, who wanted a bridge that could open and be a match for London’s Tower Bridge. The funds for the construction came from Japanese war reparations, with the Fuji Car Manufacturing Co. Ltd being given responsibility for design and construction. However, at the time, Japan had no bridges of this type, and Fuji Car had no bridge-building experience. The official opening was carried out by Minister/Commander of the Army Lieutenant General on 30 September Ahmad Yani 1965, only hours before he was killed by troops belonging to the 30 September Movement. At first, the bridge was known as the Bung Karno Bridge, after the president, but following his fall, it was renamed the Ampera Bridge (Amanat Penderitaan Rakyat = the mandate of the people’s suffering).

Ampera1  Ampera4

For a few years after it was opened, the center span could be lifted at 10 meters per second to allow ships of up to 44.5m in height to pass underneath. However this only occurred a few times, and after 1970 it could no longer be opened. The official reason for this was that the 30 minutes needed to raise the bridge was causing unacceptable delays, and that in any case silting of the river had made it impassable for large ships. However, according to architect Wiratman, who acted as a consultant before the construction, the design of the bridge was flawed from the outset because of the soft mud on which it was built. He maintains that his concerns were ignored for political reasons, and that as the towers’ foundations shifted, the bridge deformed to the extent that it could no longer be opened. The ballast weights needed to balance the wight of the bridge were removed in 1990 to prevent possible accidents were they to fall.

Ampera7

Text: wikipedia

Melbourne: Queen Victoria Market

Posted on Updated on

Vic-market1melb

Bila anda ingin mencari oleh-oleh untuk teman, saudara dan kerabat anda bisa datang ke Queen Victoria Market. Pasar ini merupakan salah satu tempat di kota Melbourne yang menyediakan barang-barang dengan harga lebih murah dibandingkan tempat lainnya. Lokasinya berada di antara Queen Street, Victoria Street dan William Street.

Anda bisa mendapat berbagai macam-macam suvenir, seperti: tempelan kulkas, gantungan kunci, t-shirt bergambar ikon Australia, bumerang, kerajinan tangan khas Aborigin, sepatu boot, jaket, scarf, dan lain-lain. Tidak hanya menjual suvenir saja, tetapi seperti layaknya pasar moderen juga ada pasar daging, sayur-mayur dan aneka makanan. Sehingga bukan saja para turis yang datang ke pasar ini tetapi penduduk lokal pun juga belanja untuk kebutuhan sehari-hari mereka datang ke tempat ini.

Tempat ini wajib dikunjungi bila anda traveling ke kota Melbourne.

Happy shopping!

Pesona Kota Guangzhou Di Malam Hari

Posted on Updated on

Gara-gara nonton Kejuaraan Dunia Bulutangkis di televisi beberapa hari lalu dimana diperlihatkan sekilas kota Guangzhou dan menaranya yang penuh dihiasi dengan warna warni lampu dari bawah sampai puncak menara, saya jadi teringat dengan trip saya tahun lalu ketika datang ke kota ini. Dan kebetulan saya memang belum posting cerita pengalaman saya selama di Guangzhou.

Trip ke Guangzhou merupakan rangkaian trip saya di tahun 2012 bulan Oktober. Selama 7 hari travelling di negeri Cina Selatan mengunjungi 3 kota besar yang di mulai dari Macau, Hongkong, Guangzhou dan kembali lagi ke Hongkong, Macau, Jakarta, mengalami banyak kejadian seru yang mendebarkan karena ketatnya waktu. Dan selama melakukan travelling, saya lebih banyak menggunakan transportasi kereta api atau berjalan kaki…hehehe…namanya juga perjalanan hemat, jadi sangat mengandalkan pilihan transportasi murah 🙂

Untuk sampai di Guangzhou saya naik Kereta Api dari Hongkong, tepatnya dari Mongkok Station, tempat dimana selama 2 hari saya menginap di hostel di kawasan tersebut, dan berhenti di Shenzhen untuk pemeriksaan visa dan paspor. Kemudian lanjut naik KA menuju Guangzhou dengan harga 80Yuan untuk sekali jalan. Perjalanan kereta api dari Shenzhen ke Guangzhou memakan waktu lebih kurang 1 jam 20 menit. Dan berangkatnya tepat waktu 🙂

Saya berada di Guangzhou hanya 3 hari dan itu tidak 3 hari penuh. Sampai di Guangzhou sudah sore dan check in di hostel sekitar jam 8 malam sehingga sisa hari itu saya tidak bisa jalan-jalan kecuali makan malam di sekitar hostel. Tempat saya menginap ini sebenarnya bukan hostel melainkan apartemen yang oleh pemilik apartemen dijadikan hostel untuk para traveller ala backpacker seperti saya. Terdiri dari 3 kamar. Semuanya tipe dormitori dengan jenis bunk bed (tempat tidur bertingkat). 1 kamar khusus untuk wanita dengan 4 tempat tidur, 1 kamar lagi khusus pria dengan 6 tempat tidur dan 1 kamar lagi campur pria dan wanita dengan 8 tempat tidur. Yang mengejutkan buat saya adalah ternyata pemilik hostel tersebut orang Indonesia. Namanya Leane, orang Surabaya keturunan Tionghoa. Kemudian menikah dengan orang Cina asli di Guangzhou. Nah, Leane ini kalau berbicara dengan bahasa Indonesia langsung logat jawa timurnya keluar 🙂 Tentu saja pembicaraan selanjutnya kami menggunakan bahasa Indonesia. Karena dia juga surprise bertemu saya yang dari Indonesia, dia memberikan map kota Guangzhou gratis. Wooww….kamsia Leane! Dan juga banyak memberikan penjelasan mengenai tempat-tempat yang perlu dikunjungi dan bagaimana menuju tempat-tempat wisata tersebut. Ahh…senangnya!

Karena saya hanya punya waktu 1 hari penuh, maka besoknya pagi-pagi saya sudah keluar dari hostel untuk berjalan-jalan. Acara saya selama satu hari itu adalah mengunjungi Chen Clan Academy, Shamian Island, Pedestrian street untuk tempat shopping dan sorenya menyusuri sungai Pearl atau Zhu Jiang.

Selama tour seharian, saya menggunakan transportasi kereta api bawah tanah, bus dan berjalan kaki. Cuaca pada hari itu cerah dan beruntung tidak turun hujan. Sekilas melihat kota Guangzhou, gedung-gedung pencakar langit sangat banyak seakan berlomba-lomba untuk mencapai yang paling tinggi. Juga saya melihat beberapa plaza atau mall yang baru selesai dibangun dan didalam gedung tersebut baru ada satu dua toko saja. Hebatnya lagi pembangunan mal-mal tersebut mempunyai akses langsung ke subway atau stasiun kereta api. Kota Guangzhou terbilang cukup bersih dan taman-taman untuk beristirahat maupun tempat berolahraga juga banyak. Sementara pengguna sepeda tradisional juga masih banyak yang berseliweran dan kadang-kadang malah tidak mengikuti rambu-rambu lalu lintas. Biarpun lampu lalu lintas warna merah tetap saja mereka lewat dengan cueknya. Saya beberapa kali menyeberang jalan hampir tertabrak sepeda 😦

Dari beberapa tempat yang saya kunjungi selama sehari penuh, buat saya tempat yang paling menarik adalah naik kapal menyusuri sungai Pearl. Menikmati kota Guangzhou yang banyak dihiasi lampu-lampu berwarna-warni dari sungai benar-benar sangat menarik. Saya membayar karcis kapal tersebut sekitar 50 yuan (maaf, lupa-lupa ingat). Untuk mencapai tempat naik kapal tersebut saya turun di Haizhu Square, kemudian berjalan kaki menyusuri sungai sekitar 1km. Di sekitar itu banyak sekali orang-orang datang untuk menikmati pemandangan sungai Pearl di sore hari. Tukang jualan seperti jagung rebus pun mangkal di tempat tersebut. Lumayan juga untuk mengisi waktu sambil menunggu jam kapal pesiar tiba, saya menikmati kegiatan di sekitar tempat tersebut.

IMG_0095_resize  IMG_0091  River1  IMG_0101_resize

Sekitar jam 7 malam pintu kapal dibuka dan kami dipersilahkan masuk. Kapalnya bertingkat dan saya duduk di dek bawah bagian dalam. Kapal yang saya tumpangi ini bukan kapal yang menyediakan makan malam walaupun tempat duduk saya ada mejanya dan bisa diduduki untuk 4 orang berhadap-hadapan. Untungnya kapal tidak terisi penuh sehingga saya bisa duduk leluasa, dan juga boleh wira wiri ke atas, depan atau belakang untuk mengambil gambar 🙂

Selama lebih kurang 1 jam kapal menyusuri sungai Zhu Jiang dan melewati Renmin Bridge, Jiefang Bridge, Haizhu Bridge, Jiangwan Bridge, Haiyin Bridge dan Guangzhou Tower yang tingginya 450m. Semua jembatan dihiasi dengan lampu warna-warni sehingga tampak terang benderang dan menarik perhatian. Sampai di kejauhan pun masih bisa terlihat bentuk jembatannya. Sangat indah….

Bridge1  Bridge2

20121028_201600 20121028_201704 20121028_202755 20121028_202820 20121028_203231 20121028_201422  IMG_0105_resize  20121028_201704

Sunshine Hostel  Denah Sunshine Hostel

Siem Reap: Keliling Angkor Wat Dengan Tuk Tuk

Posted on Updated on

Angkor3

Jauh-jauh hari sebelum trip ke Siem Reap sudah punya niat banget untuk mengelilingi Wat Angkor dengan bersepeda. Berdasarkan informasi dari “mbah google” di website kalau sewa sepeda di Angkor Wat seharian hanya USD1…wow murah meriah namanya nih. Salah satu alasan kenapa saya memilih hotel yang dekat dengan Angkor Wat. Sudah terbayang asiknya bersepeda di Angkor Wat, melihat candi-candi di sekitarnya dengan leluasa, tanpa perlu harus ditunggu oleh pihak operator tur atau supir taksi. Kalau lelah di tengah jalan, bisa langsung berhenti seenaknya dan cari tempat buat ngadem. Lihat map dan peta Wat Angkor, kelihatannya tidak begitu jauh jaraknya antara candi yang satu ke candi lainnya. Kalau jaraknya hanya 1 – 2 km, masih cincai lah untuk dijabanin, secara saya kan rajin berolah raga gitu looh… hehehe PD banget ya… 🙂

Tiba di kota Siem Reap dari Phnom Penh sudah lewat jam 6 sore dan diantar oleh bus sampai di depan hotel sekitar jam 7 malam. Sebelum masuk kamar sudah minta lebih dulu informasi mengenai paket tur yang mereka miliki dan saya diberi 1 lembar foto copy berisi program tur lengkap dengan harganya. Ada harga untuk tur setengah hari dan tur sehari. Untuk setengah hari hitungannya dari jam 8 sampai 12.30 (pagi) atau jam 2.30 sampai sunset (siang). Sedangkan untuk tur sehari dihitung dari jam 8 pagi sampai sunset. Ada juga harga tur kalau menggunakan kendaraan tuk tuk, mobil dan mini bus (untuk 8 – 10 penumpang). Harga mengikuti jenis kendaraan yang mau digunakan dan waktu yang mau dipilih. Hmmm…harga-harganya cukup wajar menurut saya. Sebelum tidur, saya sudah memilih tempat-tempat yang menurut saya tidak boleh dilewatkan selama berada di Siem Reap. Baiklah…saya dulu kalau begitu 🙂

Setelah sarapan pagi dengan menu roti plus selai, telur orak arik, kopi dan jus jeruk…menu yang cukup komplit untuk menginap di hotel kelas ekonomi, saya mendatangi meja resepsionis untuk menanyakan program tur Wat Angkor bila menggunakan sepeda. Karena pihak hotel tidak punya fasilitas sewa sepeda, maka mereka menganjurkan untuk menyewanya di kota, dekat pasar Sentral. Wah, cukup repot juga kalau harus ke tempat penyewaan sepeda, maka saya putuskan untuk hari ini saya akan menyewa tuk tuk saja karena saya pikir toh besok saya masih akan mengunjungi Wat Angkor. Saya diminta menunggu sebentar karena hotel akan menghubungi tuk tuk yang bisa mengantar saya hari itu. Ngga perlu lama menunggu, karena tuk tuknya sendiri sudah ada di depan hotel dari tadi. Rupanya ada tamu yang membatalkan sehingga tuk tuk tersebut dialihkan untuk saya sewa. Beruntunglah saya… 🙂

Saya langsung menghampiri tuk tuk tersebut dan mengucapkan salam “good morning”..supir tuk tuk langsung membalasnya dengan senyuman dan mempersilahkan untuk naik. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Ratna. Kalau di Indonesia, nama ini umumnya pemiliknya adalah seorang wanita. Postur tubuhnya tipikal orang Asia, tidak gemuk juga tidak kurus, tidak tinggi juga tidak pendek, berkulit kekuningan dan mata agak sedikit sipit. Memakai rompi warna coklat susu dan ada nomor cukup besar tertulis di punggung belakang dan di bagian depannya lebih kecil. Nomornya 9889. Catat ya…kalau-kalau di Siem Reap bertemu dengan orang yang memakai rompi dengan nomor tersebut panggil aja namanya. Kalau dia menoleh berarti beneran Ratna…hahaha 🙂  Giginya rapi dan rata, tidak seperti saya…:) Sebelum naik, Ratna memberi tahu kalau di tuk tuk nya ada kontainer berisi air minum mineral gratis untuk penumpangnya selama tur sehari. Tidak lama kemudian, tuk tuk melaju di jalan aspal yang mulus menuju kawasan Wat Angkor. Hanya butuh 10 menit untuk sampai di depan loket karcis masuk.

Tuktuk Ratna Tuktuk Ratna2

Pilihan yang tepat menurut saya menggunakan tuk tuk untuk mengelilingi kompleks Angkor Wat. Setelah berada di dalam kompleks, baru bisa melihat dan mengalami langsung betapa kalau saya seandainya bersepeda mengelilingi kompleks yang amat luas ini….plus cuaca yang semakin panas di siang hari dan jalanan yang berdebu… yang pasti saya tidak akan bisa menikmatinya. Untungnya lagi saat itu saya juga membawa masker, selain topi. Bulan Februari saat itu adalah musim kering di wilayah Kamboja. Dan panasnya minta ampun deh… rasanya lebih panas di Siem Reap dari pada Jakarta.

Program tur saya untuk satu hari di Angkor Wat berlangsung sukses. Ditemani Ratna, supir tuk tuk yang baik hati dan murah senyum ini yang membawa saya mengelilingi kompleks, dan yang memilihkan tempat yang terbaik untuk dilihat dan spot untuk foto sunset. Dari awal saya sudah punya feeling kalau Ratna ini orangnya baik hati dan ramah. Dan ternyata memang benar. Untuk keesokan harinya pun saya meminta Ratna untuk bersedia mengantar saya hunting sunrise di Angkor Wat dan sunset di Danau Tonle Sap. Beliau juga memberikan kartu namanya untuk saya, kalau-kalau ada teman-teman saya yang ingin menggunakan jasa Ratna bila datang ke Siem Reap bisa saya rekomendasikan. Mau tau biaya tur saya selama 1 hari menggunakan tuk tuk? Biayanya USD15. Saya berdua dengan teman saya, jadi hanya bayar USD7.5 saja. Kalau berempat (sesuai kapasitas tuk tuk) jatuhnya akan lebih murah lagi dan pastinya lebih hemat. Nah, buat kalian yang akan tur ke Angkor Wat, sangat saya sarankan menggunakan tuk tuk. Happy travelling!

   Angkor1 Angkor2   Angkor5 Angkor4

Related Links

Menyusuri Sungai Melaka, Bersih Nan Apik

Posted on Updated on

Siapapun yang datang ke kota Melaka khususnya ke Stadthuys sudah pasti akan menemukan sungai Melaka. Kota Melaka ini tidak terlalu besar, apalagi di lokasi paling populer dan menjadi pusat wisatanya yang terkenal dengan Kota Peranakan Warisan sehingga kalau kemana-mana bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Di sini saya ingin berbagi cerita dan foto-foto yang dapat saya liput saat saya berjalan kaki menyusuri Sungai Melaka.

Pada masa Kesultanan Melayu Melaka di tahun 1402-1511, Sungai Melaka merupakan jalur utama masuknya kapal-kapal dagang dan sebagai kawasan pelabuhan, perdagangan dan perniagaan sehingga menjadi sejarah penting bagi masa-masa selanjutnya. Saya menyusuri Sungai Melaka ini mulai dari hotel tempat saya menginap yaitu di L’armada Guesthouse yang letaknya persis di pinggi sungai. Saya sengaja memilih hotel ini karena ingin merasakan suasana yang berbeda dari tempat yang sebelumnya di tengah kota.

Persis di belakang guest house, ada tempat penyeberangan namanya Jembatan Pasar. Saya tidak melihat pasar di dekat jembatan tersebut. Tetapi di kawasan guesthouse saya yaitu Jalan Kampung Hulu banyak melihat kesibukan bongkar muat barang-barang dagangan. Sering terlihat truk atau mobil box hilir mudik di sekitar jalan Kampung Hulu. Mungkin saja nama jembatan tersebut berasal dari kegiatan di kawasan Jalan Kampung Hulu. Dari Jembatan Pasar saya berjalan ke arah Barat atau berakhirnya Sungai Melaka ke laut.

MR1 MR2

Sungai Melaka boleh dibilang bersih dan bebas dari sampah. Banyak slogan terlihat dimana-mana untuk mengajak masyarakat Melaka mencintai Sungai Melaka. Dan slogan itu berhasil, terbukti dengan kebersihan sungai ini menjadi salah satu andalan obyek wisata. Para pelancong dapat menikmati keindahan kota Melaka dengan menggunakan kapal ferry. Ada beberapa jeti atau halte di pinggir sungai untuk menaiki kapal ferry. Pelancong juga bisa naik ferry ini berulang kali selama 1 hari (dari jam 9 pagi – 9 malam) atau istilahnya Hop Off Hop On dengan sekali bayar. Untuk dewasa dikenakan harga RM30 dan anak-anak RM15.

20130724_171237 IMG_3710 MR9.1

Yang menarik dari menyusuri sungai Melaka adalah pemandangan dinding-dinding rumah di tepi sungai yang di cat dengan gambar-gambar aneka warna yang mencolok mata. Menurut saya hal ini makin membuat menarik para pelancong untuk berjalan-jalan di tepi sungai Melaka. Rasanya sayang juga kalau hanya sekedar melihat gambar-gambar tersebut tanpa mengabadikannya dalam foto. Lebih sayang lagi untuk dilewatkan kalau saya sendiri tidak berfoto di gambar-gambar tersebut. Narsis ini judulnya…hahahaha. 🙂 Ini juga sebagai bukti kalau saya memang benar-benar pernah ke sini, ya kan?

Full MR1 Heritage

Tidak terasa berjalan kaki sudah sampai di jembatan utama, yaitu Jembatan Tan Kim Seng. Dari jembatan ini bisa terlihat Hard Rock Cafe, Jonker Street, Stadthuys (Rumah Merah), Hotel Casa del Rio, Tourist Information Centre. Karena jembatan ini berada di pusat kawasan turis, maka tidak heran kalau banyak sekali orang-orang hilir mudik di atas jembatan ini. Benar-benar sangat ramai. Turis-turis mulai berdatangan dari jam 11 pagi dengan menggunakan bus besar dan kebanyakan adalah turis dari Cina atau Taiwan (menurut saya). Ini saya tahu dari bahasa mereka.

MR11 Full MR2

Setelah mengambil foto-foto di sekitar Jembatan Tan Kim Seng, saya melanjutkan lagi berjalan kaki menuju Museum Maritim. Rupanya berjalan kaki menyusuri tepian sungai Melaka merupakan salah satu trek yang dipakai untuk Olahraga Jalan Kaki 10000 Langkah. Dan panjang trek ini adalah 6km. Dimulai dari Maritim Museum atau tempat pembelian karcis Melaka River Cruise sampai melewati Jembatan Pasar dan kembali lagi ke awal start. Waahhh…secara tidak sengaja ternyata saya telah mengikuti jalur trek ini. Walaupun hanya sampai di Jembatan Pasar, tetapi lumayan juga jauhnya kalau bolak-balik dan setiap hari…hehehehe 🙂

Trek   Trek1

Akhirnya saya sampai di titik terakhir dari Sungai Melaka yang mengalir ke laut. Tidak ada kapal-kapal besar berlabuh, hanya 1 – 2 kapal boat yang sepertinya milik pribadi bersandar di tepian. Sebelum ujung sungai ada jembatan jalan raya melintas di atas sungai Melaka.

MR16 MR17

Demikianlah perjalanan saya hari ini selama hampir sehari penuh (sampai dengan senja) menyusuri keindahan sungai Melaka, bersih dan apik.

Salam Travelling!