Incredible India: Here I am!

Posted on Updated on

Victoria1

Perjalanan saya ke India ini saya rasakan sangat fenomenal dibandingkan dengan perjalanan saya ke negara-negara lain yang sebelumnya. Sebagian besar orang mungkin akan berpikir lebih baik mengunjungi negara seperti Korea Selatan, Hongkong, Taiwan atau Jepang dibandingkan trip ke India. Apa bagusnya negara ini selain Taj Mahal? Saya sendiri juga tidak mengerti… buat saya perjalanan ke India jauh lebih menantang dan lebih seru. Semakin orang bilang hal-hal negatif mengenai India, saya koq semakin ingin mengenal negara eksotis ini.

Sebenarnya trip ke India tidak masuk dalam daftar negara-negara yang akan saya kunjungi dalam 2 tahun mendatang. Negara yang mau saya kunjungi dalam waktu dekat adalah Korea Selatan. Dan untuk itu saya sudah membeli tiket keberangkatannya yaitu Jakarta – Kuala Lumpur – Seoul. Mendadak di awal Juli saya ganti haluan memilih India. Pertimbangan saya yang pertama kenapa saya memilih India adalah karena Korea Selatan membutuhkan visa untuk masuk ke negara tersebut dan salah satu syaratnya adalah surat referensi kerja dan surat keterangan gaji atau buku tabungan selama 3 bulan terakhir. Sementara saya sejak Januari 2013 sudah tidak bekerja lagi. Pikiran saya waktu itu adalah sudah pasti aplikasi visa saya bakal di tolak. Pertimbangan lainnya adalah negara Korea Selatan sudah jauh lebih maju di negara-negara Asia, modern dan semuanya pasti akan mudah dilakukan, walaupun saya tidak bisa berbahasa Korea, tetapi melihat dan membaca pengalaman orang-orang yang sudah pernah mengunjungi Korea bahasa bukan kendala karena negara ini sangat informatif. Dari pertimbangan tersebut saya berpikir rasanya kurang seru dan tidak ada tantangannya, rasanya negara ini lebih cocok dikunjungi untuk pasangan yang berbulan madu atau sekedar jalan-jalan menghabiskan uang dan shopping 🙂 Sedangkan saya mencari perjalanan yang ada unsur petualangannya. Hmm…tapi bukan berarti Korea tidak akan saya datangi, suatu hari saya pasti akan ke negeri ginseng ini. Bersabarlah… 🙂

Pesawat AirAsia mendarat dengan mulus di bandara internasional Netaji Subhas Chandra Bose pukul 5 sore lebih 10 menit. Lewat 10 menit dari waktu yang tertulis di tiket pesawat, tapi menurut saya ini masih bisa dibilang tepat waktu. Perasaan deg-degan muncul saat pesawat berjalan perlahan menuju tempat parkir di bandara tersebut. Rasanya hampir tidak percaya kalau akhirnya saya bisa tiba di India. Terima kasih Tuhan…  Aahh….saya jadi seperti orang udik aja…hihihi. Dan petualanganpun dimulai dari sini,,,ketika kaki keluar dari pintu pesawat.

Bandara terlihat agak sepi ketika saya berjalan melalui pintu belalai yang menghubungkan pintu masuk bandara. Tidak ramai dan sibuk seperti bandara-bandara lainnya. Sepertinya bandara ini masih terbilang baru. Karpetnya masih tampak bersih, bangunannya modern dan luas. Tidak lama berjalan kaki, konter imigrasi sudah tampak terlihat, terdiri dari beberapa baris antrian untuk pemeriksaan paspor. Karena saya belum memiliki visa, maka saya menanyakan kepada petugas bandara dimana saya bisa mengurus VOA (visa on arrival). Petugas menunjuk ruangan di sebelah kiri dan berteriak ke arah ruangan yang mungkin memberitahukan kepada petugas di dalam ruangan kalau ada penumpang yang mau mengurus VOA. Syarat-syarat pengajuan sudah saya siapkan sebelumnya seperti: fotocopy tiket pesawat pulang ke negara asal, bookingan hotel selama di India, pas foto ukuran 4×6, foto copy paspor, dan daftar acara (itinerary) saya selama di India yang masih berupa draft dan membayar biaya sebesar 3600 rupee. Karena saya belum menukar uang ke mata uang rupee, maka petugas mengantar saya ke loket penukaran uang (money changer). Nah, disini ini….mau nuker aja lamanya minta ampun deh. padahal tidak banyak yang antri. Saat saya datang, saya adalah urutan ke 3. Urutan pertama, yang sedang bertransaksi adalah orang India juga, urutan kedua orang bule dan ketiga saya sendiri.

Singkat kata, proses pengurusan VOA terbilang cukup lama lebih kurang 1 jam, padahal penumpang yang mengurus VOA saat itu hanya saya berdua dengan teman saya. Tidak ada penumpang lainnya. Dan ketika keluar dari bandara, jam menunjukkan pukul 7 malam. Perbedaan waktu 1,5 jam dengan Jakarta. Di India lebih lambat, maka di Jakarta sudah pukul 8.30 wib. Sebelum keluar dari bandara saya mencari booth prepaid taxi yang letaknya di sebelah kanan sebelum pintu keluar. Tepatnya persis di sebelah konter tempat saya menukar uang tadi. Saya dikenakan biaya 280 rupee untuk mengantar saya ke daerah Chandni Chawk.

Ketika keluar dari pintu bandara untuk mencari taksi, saya melihat taksi kuning antik berderet memanjang…woww!! Sejenak saya terhenyak…seakan tersadar bahwa saya sebenarnya sudah berada di India…hahaha. Saya benar-benar terpana dengan pemandangan di depan mata saya…baru tersadar setelah supir-supir taksi mendekati saya. Saya kebingungan mencari taksinya yang mana. Salah seorang melihat saya memegang kertas dan menanyakan tujuannya kemana dan saya menjawab “chandni chawk”, kemudian memperlihatkan kertas bookingan taksi. Ternyata di kertas tersebut ada nomor taksinya dan lelaki tersebut menunjuk taksi yang harus saya tumpangi. Saya memperlihatkan alamat hotel kepada supir taksi dan taksipun jalan memasuki kota. Cuaca mendung dan sekali-sekali hujan rintik-rintik. Sepertinya baru saja hujan berhenti karena beberapa ruas jalan terlihat basah. Sepanjang jalan mata saya memandang keluar jendela, menoleh ke kiri dan ke kanan….hahaha..rasanya saya adalah orang yang paling norak sedunia. Klakson mobil mulai ramai terdengar ketika taksi berada di persimpangan jalan. Becak, bus kota, tuktuk, mobil pribadi, semua menyatu di ruas jalan yang sama. Tidak ada jalur lambat seperti di Jakarta.

Kira-kira setengah jam lamanya taksi berjalan sampai tiba di daerah Chandni Chawk. Supir taksi mengatakan kalau kita sudah berada di jalan Chandni Chawk, dan supir turun untuk menanyakan ke beberapa orang di pinggir jalan hotel tempat saya menginap. Kelihatannya tidak ada yang tahu, dan tiba-tiba supir mengatakan bahwa dia berhenti sampai di sini saja. Katanya, hotel saya ada di sebelah dalam dan mobil tidak bisa masuk karena jalannya sempit. Jadi sebaiknya turun disini dan jalan kaki ke dalam. Waduuh…kalau supirnya aja ngga tau, apalagi saya yang baru pertama kali datang ke Kolkata. Mau ngga mau saya pun turun dari taksi tersebut tanpa memberi tip sepeser pun.

Turun dari taksi, saya pun kebingungan mau jalan ke arah mana. Mau tidak mau harus bertanya ke orang-orang disekitar situ. Mulailah saya bertanya-tanya. Sebagian tidak bisa bahasa Inggris, walaupun saya sudah menunjukkan alamat hotel di kertas. Sebagian memang tidak tahu alamat hotel atau bahkan tidak pernah mendengar ada nama hotel tersebut. Saya berjalan ke arah dalam, menuju arah yang ditunjuk oleh supir taksi tadi. Saya sempat memperhatikan tempat saya turun dari taksi ada gedung pertokoan yang keesokan harinya baru saya tahu nama pertokoan itu adalah e-mall, tempat penjualan barang-barang elektronik. Saya berjalan ke belakang gedung e-mall, dan suasana cukup gelap, tidak ada lampu penerangan jalan walaupun ada beberapa toko di sepanjang jalan. Dan semakin berjalan ke belakang, makin banyak jalan bercabang. Saya tanya lagi ke seorang bapak tua, mungkin umurnya sudah 70 tahun. Saya pikir dia pasti orang yang sudah lama berada di wilayah ini tentunya tahu dan pernah mendengar nama hotel ini. Saya menunjukkan alamat dan nama hotelnya. Sayangnya bapak ini berbicara seperti orang lagi kumur-kumur, sehingga tidak jelas ucapan kalimatnya Dia menunjukkan arah jalannya kemana saya harus belok dan beberapa kali menyebut kata Gipsy. Saya belok ke kiri mencoba mengikuti arahnya. Hujan turun rintik-rintik dan jalanan banyak genangan air, becek dan gelap pula. Waduh…bagaimana ini? Dan saya tidak menemukan apa-apa, malahan semakin berjalan ke dalam semakin gelap. Akhirnya saya memutuskan untuk berbelok ke kiri lagi mengarah ke jalan besar atau jalan raya. Saya hanya mengikuti feeling saja walaupun tadi sudah belok beberapa kali tapi logika saya masih jalan untuk mengetahui ke arah mana saya harus jalan untuk kembali ke jalan raya. Akhirnya ketemu juga jalan rayanya. Lega rasanya keluar dari jalanan yang sempit dan gelap. Rasa lelah mulai terasa, perut mulai keroncongan karena di pesawat tidak pesan makan dan minum 😦 Saya berhenti di pinggir jalan, tidak tahu mau bagaimana lagi. Orang-orang yang saya tanyakan tidak ada yang tahu dengan hotel tersebut. Rasa cemas pun mulai menyergap, saya hanya pasrah pada Tuhan. Dalam hati berdoa minta pertolonganNya…hanya itu yang bisa saya lakukan sambil melihat lalu lalang orang-orang berjalan kaki dan mobil-mobil yang lewat. Saya benar-benar buta, sama sekali tidak pegang map atau peta. Mau googling lewat handphone juga tidak bisa. Total saat itu hanya bisa berdoa dan pasrah. Beberapa menit saya hanya diam berdiri di pinggir jalan. Rasanya sudah mau putus asa.

Saya mencoba sekali lagi bertanya kepada segerombolan orang-orang muda yang kelihatannya orang kantoran dan baru pulang kerja. Dan lagi-lagi mereka pun tidak tahu sama sekali. Dalam keadaan badan lelah, cemas, bingung dan pasrah, tiba-tiba datang 2 orang lelaki mendekati saya dan menanyakan mau kemana. Awalnya saya sedikit ragu, apakah niat mereka ini baik, koq tiba-tiba datang begitu saja tanpa saya tahu dari mana datangnya. Tapi saya menepis pikiran itu dan saya memperlihatkan kertas alamat hotel yang saya pegang yang sudah mulai kucel dan lusuh. Harap-harap cemas melihat wajah mereka dan menanti jawaban berupa anggukan kepala atau mulut yang mengeluarkan kata “yes, i know”. Jantung saya lemas rasanya ketika mereka menggeleng-gelengkan kepalanya. Jadi mereka juga tidak tahu alamat itu berada dimana? Oooo…saya tidak ngeh kalau orang India suka menggelengkan kepala yang artinya malah “ya, oke” 🙂 Mereka mencoba menghubungi nomor telepon hotel yang tertera di kertas dan apes…tidak bisa dihubungi. Kemudian mereka menelepon kenalan mereka untuk memastikan hotel tersebut ada di jalan yang sesuai tertulis di kertas tsb. Ketika sudah yakin, mereka mengatakan bahwa hotel itu ada dan mereka bersedia mengantar saya menuju hotel tersebut. Seneng banget rasanya saat itu. Tanpa berpikir panjang lagi saya langsung bergegas mengikuti mereka dari belakang. Aduh sir….jalannya cepat sekali, sesekali saya harus berlari kecil agar tidak ketinggalan jauh atau kehilangan jejak mereka. Setelah 10 menit berjalan, akhirnya sampai juga di hotel yang dicari-cari itu. Tempatnya dibelakang toko, agak masuk sekitar 10 meter kemudian naik tangga ke lantai 3. Alamaak…dengan tas ransel di punggung, badan sudah letih dan perut kelaparan, rasanya sudah tidak sanggup naik lagi kalau bukan karena perasaan yang senangnya luar biasa. Lucunya sampai di atas, di ruang reception, 2 orang laki-laki yang mengantar saya malah marah-marah ke petugas hotel, sepertinya marah karena nomor teleponnya tidak bisa dihubungi dan membuat orang susah untuk mencari alamatnya. Saya langsung check in dan mengurus administrasinya, dan setelah mendapat kunci kamar langsung masuk ke dalam kamar. Baru setelah di dalam kamar saya teringat dengan 2 orang pemuda yang sudah baik hati membantu saya. Saya keluar kamar untuk menemui mereka dan mengucapkan terima kasih. Tetapi 2 pemuda tadi sudah tidak ada lagi, sudah menghilang. Aahhh…saya tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada mereka. Saya berterima kasih dan mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah mengirimkan “bantuan” 2 pemuda baik hati untuk menolong saya dan saya yakin, seyakin-yakinnya kalau 2 pemuda tersebut adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk saya. Inilah keajaiban pertama yang saya rasakan di hari pertama saya berada di India. Dan masih ada lagi keajaiban-keajaiban lainnya dari Tuhan yang saya rasakan selama berada di India. Kalau bukan kasih karunia Tuhan yang Maha Agung itu, tidak mungkin saya dapat melalui hari-hari saya di India dengan selamat.

Petualangan di India pun segera di mulai….Here I am India!!

Related Links

WP3 WP2 WP1

Advertisements

9 thoughts on “Incredible India: Here I am!

    INCREDIBLE INDIA – I Love India! | A SMART Traveller said:
    October 12, 2013 at 12:47 am

    […] Here I am! […]

    […] India, Here I am! […]

    […] India, Here I am! […]

    […] India, Here I am! […]

    […] India, Here I am! […]

    Video: Sunrise In Ganges River | A SMART Traveller said:
    October 17, 2013 at 10:34 am

    […] Incredible India: India, Here I am! […]

    […] India, Here I am! […]

    Agra, The City of Emperor Kingdom | A SMART Traveller said:
    November 15, 2013 at 9:52 am

    […] Incredible India: Here I am! […]

    […] India, Here I am! […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s